Monday, August 18, 2014 0 comments

Saya Harus Pergi


saya harus pergi
setengah sayap saya patah


0 comments

Hujan Kemarin Sore


hujan jatuh lagi di tanah khas hujan ini
menjatuhkan dirinya dengan desahan
ia kesakitan jatuh di tanah beraspal





orang-orang berteduh disana
aku menerobos dengan percaya diri
melewati kubangan-kubangan
tanpa penghindaran dengan payung kecil yang hanya melindungi tudung
cipratannya sampai pada rok ini

lalu cipratannya menuju hati yang sepi
0 comments

Proyeksi


Tiba tiba aku tersadar

bukannya padang rumput yang meninggalkan rumput
tapi rumputnya yang keluar dari lingkup padang

Entah apa tapi bukan dia tak ada teman
tapi dia yang tak mau berteman
terlalu memasang tembok di sekitar dirinya
0 comments

Meluber


Aku terlalu malas mematikan keran air
aku terlalu malas berjingkat dari kasurku yang nyaman
pikiranku penuh
penuh sekali
Aku lelah membawa pikiran ini kemana mana
Ketakutan, cinta, cita-cita, kesepian


0 comments

Dominasi


Kita tidak pernah bisa memaksaApa yang ada di dalam sini



Keterpaksaan selalu membawa batu batu yang melempar kita sampai jatuh, tidak akan baik apa yang dilakukan secara terpaksa
Lalu, keterbangunanku di sore ini menjelaskan bahwa aku disini beralasan kuat untuk apa?
Apakah hanya untuk kebersamaan yang takkan lepas mengenai dua manusia yang berikatan kuat
Atau memang untuk masa depan antara aku dan satu orang itu

Tuhan, betapa ikatan ini terlalu kuat, jika memang nantinya tak terlepas maka aku mohon dominasi ini memang antara aku dia

Bukan tentang apa yang sedang dijalani untuk masa depan
Tapi dominasi dimana aku dan dia memang bersama untuk menuju apa yang dinamakan sebuah kekuatan hati menuju kehakikian

0 comments

Bekal Pulang


Jangan kamu sanggakan perjuangan karna materi, jangan kamu sanggakan hati karna takut sepi, materi akan lenyap, hati seseorang tak bisa dibeli.



0 comments

Bunga - bunga


Semerbak wanginya meluap di malam hari yang gerah


Bunga-bunga menempel pada bait tubuhnya
Anak gadis itu menyandar pada dinding dekat pintu



Menikmati deru nafasnya sendiri akan malam yang bersemu merah jambu
Memandangi laki-laki yang memetik bunga-bunganya

Anak gadis itu mencintainya dalam tutur dan benaknya

Bunga-bunga yang menempel di petiknya
Mimpi-mimpi sang pemetik menyadarkan gadis itu bahwa dirinya sedari tadi hanya memandangi punggung

Menyadari bahwa bunga-bunganya pun sudah mencintainya

Tanpa kata, tanpa ucap, dia tau bahwa bunga-bunganya hanya untuk sang pemetik ini
1 comments

Ini Tentang Warna Abu-abu


Aku melarikan diri Dari lorong-lorong yang menyesakkan paru-paru Aku menyusut menjadi arak-arakan rasa yang terurai tak beraturanLalu ku coba ambil urai-uraian itu menyusunnya agar jadi utuh 

Tapi tak lagi sama




Monday, August 11, 2014 0 comments

Sepatu Cokelat



kamu memujanya
dan sayap sayapku mulai patah
dalam tarian kosmik hatimu
kamu persembahkan segala
dan aku hanya satu biri biri
di tengah bulatan serigala
siap mengoyakku
dan terluka parah
tapi tak apa
aku rela terkoyak
demimu
yang bahkan bukan memuja aku
hey, wanita bersepatu cokelat



kamu suka sekali bergerak, kesana kemari, hingga kadang kepalaku pusing
kamu seceria warna pelangi, tapi sayang kamu tidak suka warna cerah
bukan kuning, hijau, atau pink yang kamu pilih
kamu suka warna gelap seperti hitam, dan tentu saja cokelat
warna cerah menenggelamkan auramu sedang warna gelap memancarkannya, karna kamu cerah kamu butuh materi gelap, ini seperti keseimbangan yin dan yang, katamu sok bijak

aku heran ketika kamu sering diam, lalu tertawa
wajahmu adalah cuaca yang labil, sebentar cerah sebentar mendung
lalu aku tau hatimu sedang terjatuh
kamu menemukan tempat terjatuh
dan ingin ada disitu seterusnya

kali ini kamu menari dengan menjentik-jentikkan tangan
dan senyummu lama lama mengembang seperti adonan donat, manis
aku tidak pernah melihat senyum semanis itu saat kamu jatuh
aku terus saja melihat kamu, melihat kamu berputar-putar indah

kamu sekarang punya tempat jatuh, kamu sebut dia tempatku jatuh
aku tidak pernah melihat sorot mata sebahagia itu setelah kamu sakit dulu, aku ikut bahagia

kamu suka sekali berkata kalau dia itu terhebat diantara semua, kamu memujanya
aku jadi sedikit takut kamu kelebihan, nanti kamu buta

berbulan akhirnya kamu mulai menangis, menangis, lalu menangis lagi
apa wanita selalu menangis seperti kamu, aku tidak tau
katamu kamu sudah tidak tau membendung rasa jadi harus menangis sebagai ritual sedih wanita
aku heran lalu mulai mengiya-iyakan saja, takut kamu mulai jail dan menempelkan lendir dibajuku
aku tidak suka kalau kamu mulai jail seperti itu, hey wanita jail

kamu mulai berbicara kesana kemari aku mulai pusing lagi
dia itu tak ada dua tapi mengapa membuatmu menangis, katamu ini salahmu
kamu selalu salah, aku heran kenapa kamu suka sekali menganggap dirimu salah
hujan turun kecil-kecil, itu bulir hujan yang masih bayi
sambil menari lagi kamu bilang kamu tidak pernah menemukan gelombang rasa seperti ini
aku bingung secepat itu kamu menagis lalu tersenyum seperti saat ini
hak sepatumu yang lima centi itu lepas
tarianmu tidak cocok dengan sepatumu dasar wanita bringasan !

lalu aku menarik tanganmu
membawa wanita ini ke toko sepatu
ini sepatu barumu.
matamu berbinar, warna sepatu itu cokelat dan sepertinya kamu sangat menyukainya
terimakasih, kamu sangat mengerti aku, katanya
dia mulai menari lagi aku was-was, sepatu itu juga ber-hak. jangan menari bringasan lagi, kataku padamu yang mesem-mesem menginjak becek hujan yang masih bayi tadi

sekarang kenapa kamu suka sekali menari, tanyaku. karena aku tidak pernah terjatuh seperti ini. walau kamu sering menangis, tanyaku lagi. menagis itu salah satu keindahan terjatuh
masa bodohlah saat ini mungkin kamu sudah jadi wanita setengah gila, kataku sarkastis
aku memang sudah gila, jawabnya tanpa ragu

mungkin dia terlalu hebat sampai sampai membuat kamu jatuh setiap hari tapi aku takut kalau tempatmu jatuh itu pergi kamu akan jatuh tak berdasar. kamu tersenyum dan mulai duduk di sampingku
ini masalah hati, katamu. hati tak pernah berpikir karna itu bukan tugasnya, apa aku pernah menangis, sakit, jatuh, hati hanya punya satu prinsip. dia yang tau kemana harus berlabuh 

lalu bagaimana tentang hatiku, hatiku berlabuh ke siapa. bukankah wanita yang dari dulu kuperhatikan hanya kamu saja, kata hatiku

tapi tak pedulilah. lebih baik aku melihatmu yang mulai menari lagi dengan sepatu cokelat yang manis sekali dikakimu itu.
melihatmu begitu tulus menari, aku tak mungkin tega mengusikmu dan tempatmu jatuh itu, aku cukup bahagia disini, melihat keindahan yang tak bisa kumiliki
Tuesday, August 5, 2014 302 comments

Kampus Hijauku



Hari itu cerah



awan awan putih susu menemani di atas kepalaku.


Hari ini hari pertama aku bertemu dengan sebuah tempat yang hijau dimataku.
Arsitektur bangunannya berwarna hijau dominan dengan warna putih. 

Ini kampusku, kampus yang terletak di Jalan Cikiray Daerah Cimahpar kota Bogor ini memang suasananya sangat asri dan sejuk. 

Bogor EduCARE namanya atau singkatnya adalah BEC. Dengan slogan “When English Improve Your Life” adalah Kampus yang mempunyai jurusan yaitu Adinistrasi Bisnis berbasis Bahasa Inggris dan Komputer.

Warna hijau adalah dominan disini, Kampus yang memulai mata kuliahnya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore ini selalu mempunyai cerita-cerita seru dibaliknya. 

Bangunan yang terdiri dari 3 lantai ini menjulang tinggi dan megah di tengah tengah pinggiran Kota Bogor.
 Semuanya serba bersih disini tanpa alas kaki dan tanpa HP kami memulai belajar di Kampus hijau Bogor Educare.

 Setiap harinya pelajaran pelajaran yang diberikan oleh dosen dosen terasa menyenangkan walau kadang kadang membuat anak anak sedikit pusing dengan tugas tugas yang diberikan, tapi itulah yang membuat anak anak kampusku tahan banting dan belajar tentang mental. 

Selain pelajaran yang full dari senin sampai Jumat, kitapun setiap makan siang kumpul bersama sama di lantai tiga, dan kadang setiap jumat selalu ada kuliah umum ataupun pengajian itulah salah satu yang membangun akhlak kami di kampus ini. 

Kebersamaan selalu terjaga di Kampus Hijauku. 

Di Ruang Lovable, aku sedang bermain piano dan tersenyum

 


 Pengalamanku yang paling aku suka yaitu ketika aku memasuki ruang kelas lovable, karena disitulah terdapat satu buah piano, aku suka sekali musik, aku senang diruang kelas itu, aku suka membuat irama lagu yang aku ketahui dengan menekan tuts-tuts pianonya.

 Kampusku lengkap sudah keindahan dan kenyamannya, kampus yang berkualitas walau anak anak belajar disini tanpa dipungut biaya Kampus yang berkarakter karena kita diberikan bukan tentang mata kuliah saja, tapi tentang softskill pula Kampus yang sejuk dengan nuansa hijau di didada.

Ini cerita Kampusku, Kampusmu?

Monday, July 14, 2014 0 comments

Di Balik Layar

ketika cahaya matahari
menimpa butir-butir air
saat itu terjadi pelangi
dibiaskan, dipantulkan
sedemikian rupa
indah, warnanya banyak
tak hanya satu

seperti hidup 
beragam
tapi tetap berada pada ekuilibrium
seimbang
tidak berat sebelah

sampai saat ini
Yang Maha
tetap mengatur
sedemikian sehingga

matahari tak pernah lupa terbit
bumi tak seenaknya beredar di bimasakti
bahkan bintang, rasinya tetap sama.



umur gue 20 tahun ini, udah cukup tua kalau dicap sebagai anak-anak. walau gue enggak ngecap diri gue dewasa tapi seenggaknya gue ngerasa mengalami proses kedewasaan.
semakin gue berjalan kedepan, semakin banyak hal-hal yang gak bisa ditangkep naked eyes waktu zaman gue kecil mulai kebuka perlahan-lahan, kaya sebuah kotak keramat yang cuma bisa dibuka dengan pengkodean yang rumit. banyak banget yang gue pahami sedikit demi sedikit.

gue ngerasa kehidupan itu dibagi dua, di depan layar dan di balik layar. yang selalu disiguhin di depan mata kita sekarang mungkin itu termasuk yang di depan layar. semuanya udah diedit sedemikian rupa tanpa kita tau proses dibaliknya.
kayak kita liat orang sukses, semuanya terkemas apik diperlihatkan didepan kita. mungkin dia cerita gimana dia bisa sukses, mungkin sampai dibuat buku atau filmnya. kalau menurut gue walau dia udah ceritain semua gimana kisahnya, itu tetep udah di depan layar.

proses di balik layar itu bukan proses yang diceritain ulang, proses dibalik layar itu sekarang. waktu yang kita habiskan dengan diri kita sendiri, waktu yang relatif karna milik kita sendiri, waktu yang tanpa orang lain tau apa yang kita rasain, rencanain, galaukan, pusingkan, sedihkan, dan segala tetek bengek rasa yang bisa manusia rasain.
gue ngerasa dengan diri sendiri itu poses di balik layarnya. dan cuma kita sendiri yang ngerti.

karna hidup itu beragam, gue jadi ngerti kadang kita gak boleh selalu maksain apa yang pengen bangetin kitain pengenin. kadang kita pengen gini, malah jadi gitu, pengen gitu, malah jadi gini.

kadang buat jadi putih kita pernah ngerasa hitam dulu
buat jadi kupu-kupu yang cantik, kita jadi kepompong yang buruk rupa dulu

tapi gue terkesan sama tulisan RD di manusia setengah salmonnya hasil nginjem dari si nandi. katanya ; ternyata buat dapetin apa yang kita pengenin kita ga harus jadi super, tapi cukup jadi manusia setengah salmon. karna ikan salmon itu berani ngelawan arus walau kadang dia mati di perjalanan, tapi mereka berani pindah.
pindah disini mungkin filosofinya berani ke suatu tempat yang baru, diri kita yang baru, mencoba yang baru, tapi pisah sama sesuatu yang lalu.

tapi yang namanya kepindahan berarti berpisah sama suatu yang dulu akrab dengan kita, so pasti ada kesedihan yang bakal muncul kepermukaan.
kaya gue yang udah di masa abu-abu akhir, gue udah ada di titik jenuh dimana gue udah sangeuk belajar dan gue ngerasa orientasi selama ini gue belajar buat apa? apa ilmu yang gue dapet itu bakal nempel terus? kayanya udah salah niat kalau gue cuma nyari nilai. mungkin kalau gue lulus entar (amin) gue malah bakal kangen sama SMA gue ;( walau gitu ada satu yang gak dipelajarin dalam kbm sekolah tapi kita belajar otodidak sendiri.
gimana kita belajar berteman
belajar mengamati sifat orang selama pergaulan sama mereka
belajar jadi orang
karna gue suka denger ada yang ngomong
orang tua pengen anaknya jadi orang
lah selama ini kita masih calon orang teman-teman :)

dan gue juga terkesan banget sama bukunya andrea hirata yang lagi lagi gue pinjem dari seorang teman bernama vidi, kadang dalam hidup, kita dibuat sangat jatuh, terus orang-orang sekitar  buat kita ngerasa gak mampu kalau kita bisa capai mimpi. tapi inget juga sama bukunya ahmad fuadi yang gue pinjem dari nadya kalau kita bersungguh-sungguh pasti berhasil "Man jadda wajada". jadi gue pengen sungguh sungguh tapi pada kenyataannya, derajat keNATOan orang (No Action Talk Only) lebih besar daripada do it itu sendiri.

mungkin balik lagi proses di balik layarnya dengan diri kita sendiri itu
kalau ngurus diri yang nyata aja belum bisa
gimana kalau ngurus mimpi yang gak berbentuk materi kita bisa

dan gue juga terkesan sama bukunya fira basuki, kali ini itu buku punya gue gak menang minjem. katanya terkadang kita harus nyoba berani ngelakuin apa yang masih ngeganjel dihati supaya kita tau apa yang sebenernya kita inginkan, butuhkan.

terakhir, hidup itu udah di depan layar karna sutradaranya adalah Tuhan sendiri
tapi proses gimana kita bisa ngisi scene itu sendiri ada di kita
karna kita lah yang megang di balik layarnya
terlepas dari nasib dan takdir

hidup itu cuma sekali
buat apa hidup di satu hal yang gak lu sukai
buat apa hidup tapi selamanya bohongin diri sendiri kalau lu gasuka ada di tempat itu
move, move, move on

jadi diri sendiri
jangan pernah coba jadi orang lain
karna kita istimewa
sidik jari kita gak pernah ada yang sama
kita manusia
kita unik

semoga suatu hari bisa bertemu lagi di suatu tempat yang indah :)









Monday, June 9, 2014 0 comments

Kesombongan Lidah

          Seorang sarjana tersesat dalam sebuah perjalanan, telah tiba di sebuah jalan yang sempit, lorong yang gelap lagi kotor. dengan air yang tergenang di setiap tempatnya, bagaikan lautan-lautan kecil bagi binatang merayap di bumi.



          Matanya menyapu ke setiap sudut yang basah dan berhiaskan tumbuhan lumut yang hijau kecoklat-coklatan. raut wajahnya tegang dan pucat karena rasa takut yang melebihi rasa herannya. sampai kemudian matanya terpaku pada orang tua yang lusuh, yang duduk langsung bersentuhan dengan kulit bumi, namun wajahnya yang renta melukiskan ketidakpeduliannya akan hal itu.

 
;